AKSI NYATA ( MERDEKA BELAJAR)
AKSI
NYATA
MEMBAGIKAN
PEMAHAMAN KONSEP MERDEKA BELAJAR
OLEH
LINA ROSLIANA
Latar belakang kenapa KEMENDIKBUDRISTEK merancang kurikulum merdeka yaitu untuk mengatasi krisis belajar yang dihadapi yang ditandai oleh rendahnya hasil belajar siswa bahkan berkurangnya literasi , ini juga berakibat pada ketimpangan kualitas belajar antar wilayah. Pemulihan system Pendidikan ini tidak bisa diwujudkan melalui perubahan kurikulum saja, ytapi juga penguatan kapasitas guru dan kepala sekolah. Kurikulum yang dirancang dengan baik, akan mendorong dan memudahkan guru utuk mengajar lebih baik lagi
Merdeka belajar ini merupakan terobosan Kemendikbudristek untuk menciptakan SDM yang unggul melalui kebijakan yang menguatkan peran seluruh insan pendidikan kurikulum merdeka
Menteri Pendidikan mengatakan bahwa Merdeka Belajar merupakan konsep yang dibuat agar siswa bisa mendalami minat dan bakatnya masing-masing. Kemudian anak juga tidak bisa dipaksakan mempelahari suatu hal yang tidak disukai. Sebagai orangtua tentu tidak bisa memaksakan anaknya yang menyukai seni untuk belajar secara mendalam komputer dan sebaliknya, anak itu pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu dan keinginan belajar. Jadi tidak ada anak pemalas atau anak yang tidak bisa,
Tujuan
Merdeka belajar adalah untuk menggali potensi terbesar para guru-guru sekolah
dan murid serta meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri.
1. Memahami
dan Memahami diri sebagai Pendidik
Dalam merdeka
belajar, guru sebagai pendidik sebelum mendidik siswa guru tersebut harus :
a. mampu
dan mengenal diri sendiri
sebagai pendidik, guru harus merefleksikan kekuatan
dan kelebihan yyang dimiliki, setelah itu baru mengenal dan menguatkan karakter
siswa
b. Mengetahui
apa peran guru
Kihajar Dewantara menyamakan bahwa mendidik siswa sama
dengan mendidik rakyat, anak-anak yang belajar Bersama kita kelak akan menjadi
masyarakat. Untuk itu, peran guru bukan hanya mendidik, tapi juga harus mampu
menghantarkan mereka mencapai cita-cita mau jadi apa mereka di masa depan.
c.
Mau
jadi guru yang bagaimana
Menjadi
seorang pendidik tentunya harus menjadi seorang panutan atau teladan bagi anak
muridnya, yang mampu menginspirasi dan memberikan pengaruh bagi mereka dan bisa
dikenang menjadi sosok yang dikagumi
2. Medidik
dan Mengajar
Pengajaran adalah suatu cara menyampaikan ilmu atau
manfaat bagi hidup anak-anak secara lahir maupun bathin.
Pendidikan adalah tempat menaburkan benih-benih
kebudayaan yang hidup dalam masyarakat sekaligus sebagai instrument tumbuhnya
unsur peradaban.
Pengajaran salah satu dari Pendidikan. Pendidikan tidak
sekedar memberi pengetahuan tetapi juga mendidik keterampilan berpikir dan
mengembangkan kecerdasan bathun siswa.
Menurut Ki Hajar Dewantara:” Pendidikan sebagai
tuntunan dalam hidup tumbuhnya murid”. Ki Hajar Dewantara mengenalkan sistim
Among yang sloganny :
“Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut
Wuri Handayani”
Seorang guru harus memberi contoh yang baik, seorang
guru harus membangkitkan semangat muri-murid, seorang guru harus memberi
dorongan agar mandiri atau merdeka.
Pendidikan yang sesuai dengan bangsa adalah Pendidikan
yang Humanis, Kerakyatan, dan Kebangsaan.
Manusia merdeka yaitu manusia yang dapat bersandar
atsa kekuatan lahir dan bathinnya sendiri dan tidak tergantung pada orang lain.
3. Mendampingi
Murid Dengan Utuh dan Menyeluruh
A. Kodrat
Murid
1) Kodrat
Keadaan
Kodrat keadaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari dasar pendidikan murid. Kodrat keadaan terdiri dari dua hal yaitu kodrat
alam dan kodrat zaman.
2) Kodrat
Alam
Kodrat alam merupakan bagian dari dasar pendidikan
murid yang berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan tempat murid berada.
Salah satu instrumen untuk pengembangannya adalah melalui pendidikan atau
tuntunan. Kita sebagai pendidik dapat merencanakan pengembangan kemampuan
berpikir murid agar akal budi murid terus berkembang sesuai kodrat alam nya.
Melihat murid sebagai individu yang utuh, bagian dari masyarakat, serta
lingkungannya menjadi keharusan bagi tumbuh dan hidupnya murid.
3) Kodrat
Zaman
Kodrat zaman merupakan bagian dari dasar pendidikan
murid yang berkaitan dengan isi dan irama. Ki Hadjar Dewantara ingin
mengingatkan kita para pendidik untuk menuntun murid mencapai kekuatan-kekuatan
kodratnya sesuai dengan alam dan zaman menggunakan asas tricon yaitu kontinyu,
konvergen, dan konsentris. Kontinyu, pendidik menuntun murid dengan perencanaan
dan pengembangan secara berkesinambungan menyatu dengan alam masyarakat
Indonesia untuk mewariskan peradaban. Konvergen, pendidik menuntun murid dengan
pemikiran terbuka terhadap segala sumber belajar, mengambil praktek-praktek
baik dari kebudayaan lain, dan menjadikan kebudayaan kita bagian dari alam
universal. Konsentris, pendidik menuntun murid dengan berdasarkan kepribadian
karakter dan budaya kita sendiri sebagai pusatnya.
B. Trikon
Kali ini kita akan mengulas materi tentang asas
Trikon; kontinyu, konvergen, dan konsentris dalam pendidikan serta contoh
penerapannya di dalam kelas agar kita dapat memahami tujuan dan asas pendidikan
berdasarkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara.
Pendidikan adalah suatu proses yang dinamis.
Pendidikan terus berubah dan berkembang sesuai dengan kondisi zaman dan juga
kondisi murid. Jangan dibayangkan sistem pendidikan sebagai sebuah sistem besar
yang hanya dipikirkan dan diurus oleh para pakar dan penentu kebijakan di
pusat. Sekolah atau bahkan kelas juga merupakan suatu system pendidikan dengan
ruang lingkup yang kecil namun merupakan ujung tombak berjalannya sistem
pendidikan.
4. Mendidik
dan Melatih Kecerdasan Budi Pekerti
Budi pekerti atau yang disebut watak diartikan sebagai
bulatnya jiwa manusia yang merupakan hasil dari bersatunya gerak pikiran,
perasaan, dan kehendak, atau kemauan sehingga menimbulkan suatu tenaga. Budi
pekerti juga dapat dimaknai sebagai perpaduan antara cipta (kognitif) dan rasa
(afektif) sehingga menghasilkan karsa (psycho motoric).
Kita dapat melihat perpaduan antara pengetahuan atau
wawasan tentang kejujuran (kognitif) dan perasaan yang mengikutinya seperti ia
merasa gelisah jika ia berperilaku tidak jujur atau melihat perilaku
ketidakjujuran disekitarnya (afektif) yang kemudian menghasilkan watak atau
budi pekerti jujur yang ditampilkan (psikomotorik). Bagian biologis adalah
bagian yang berhubungan dengan rasa seperti rasa takut cemas, gelisah, putus
asa, tidak percaya diri, senang, bahagia, kecewa, sedih dan sebagainya. Ki
Hadjar Dewantara juga menjelaskan bahwa keluarga merupakan tempat utama dan
yang paling baik dalam melatih karakter anak atau murid.
Kihajar Dewantara menggunakan teori konvergensi, Teori
konvergensi didasarkan atas dua teori utama. Yang pertama TEORI TABULARASA yang
beranggapan bahwa kodrat anak ibarat kertas kosong yang dapat diisi dan ditulis
oleh pendidik dengan pengetahuan dan wawasan yang diinginkan pendidik. Yang
kedua TEORI NEGATIF yang beranggapan bahwa kodrat anak ibarat kertas yang sudah
terisi penuh dengan berbagai macam coretan dan tulisan.
5. Pendidikan
yang Mengantarkan Keselamatan dan Kebahagian
Pendidikan dapat mengantarkan murid untuk keselamatan
dan kebahagiaan. Guru tidak mengajarkan ilmu pengetahuan saja, tetapi juga
memantau, membimbing murid untuk menemukan pemahaman yang bermakna. Guru secara
tidak langung berperan memperbaiki bangsa, menerapkan prinsip dan praktik baik
pembelajaran mandiri dan kontekstual berdasarkan pengalaman dan pengamatan
disekitar, serta orang tua dan masyarakat bisa terlibat didalam prosesnya.
Label: Pendidikan

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda