Kamis, 07 Juli 2022

AKSI NYATA ( MERDEKA BELAJAR)

AKSI NYATA

MEMBAGIKAN PEMAHAMAN KONSEP MERDEKA BELAJAR

 

OLEH LINA ROSLIANA

 

Latar belakang kenapa KEMENDIKBUDRISTEK merancang kurikulum merdeka yaitu untuk mengatasi krisis belajar yang dihadapi yang ditandai oleh rendahnya hasil belajar siswa bahkan berkurangnya literasi , ini juga berakibat pada ketimpangan kualitas belajar antar wilayah. Pemulihan system Pendidikan ini tidak bisa diwujudkan melalui perubahan kurikulum saja, ytapi juga penguatan kapasitas guru dan kepala sekolah. Kurikulum yang dirancang dengan baik, akan mendorong dan memudahkan guru utuk mengajar lebih baik lagi

Merdeka belajar ini merupakan terobosan Kemendikbudristek untuk menciptakan SDM yang unggul melalui kebijakan yang menguatkan peran seluruh insan pendidikan kurikulum merdeka 

 Menteri Pendidikan mengatakan bahwa Merdeka Belajar merupakan konsep yang dibuat agar siswa bisa mendalami minat dan bakatnya masing-masing. Kemudian anak juga tidak bisa dipaksakan mempelahari suatu hal yang tidak disukai. Sebagai orangtua tentu tidak bisa memaksakan anaknya yang menyukai seni untuk belajar secara mendalam komputer dan sebaliknya, anak itu pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu dan keinginan belajar. Jadi tidak ada anak pemalas atau anak yang tidak bisa,

Tujuan Merdeka belajar adalah untuk menggali potensi terbesar para guru-guru sekolah dan murid serta meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri.

 

1.    Memahami dan Memahami diri sebagai Pendidik

Dalam merdeka belajar, guru sebagai pendidik sebelum mendidik siswa guru tersebut harus :

a.       mampu dan mengenal diri sendiri

sebagai pendidik, guru harus merefleksikan kekuatan dan kelebihan yyang dimiliki, setelah itu baru mengenal dan menguatkan karakter siswa

b.      Mengetahui apa peran guru

Kihajar Dewantara menyamakan bahwa mendidik siswa sama dengan mendidik rakyat, anak-anak yang belajar Bersama kita kelak akan menjadi masyarakat. Untuk itu, peran guru bukan hanya mendidik, tapi juga harus mampu menghantarkan mereka mencapai cita-cita mau jadi apa mereka di masa depan.

c.       Mau jadi guru yang bagaimana

Menjadi seorang pendidik tentunya harus menjadi seorang panutan atau teladan bagi anak muridnya, yang mampu menginspirasi dan memberikan pengaruh bagi mereka dan bisa dikenang menjadi sosok yang dikagumi

 

2.    Medidik dan Mengajar

Pengajaran adalah suatu cara menyampaikan ilmu atau manfaat bagi hidup anak-anak secara lahir maupun bathin.

Pendidikan adalah tempat menaburkan benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat sekaligus sebagai instrument tumbuhnya unsur peradaban.

Pengajaran salah satu dari Pendidikan. Pendidikan tidak sekedar memberi pengetahuan tetapi juga mendidik keterampilan berpikir dan mengembangkan kecerdasan bathun siswa.

Menurut Ki Hajar Dewantara:” Pendidikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuhnya murid”. Ki Hajar Dewantara mengenalkan sistim Among yang sloganny :

“Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”

Seorang guru harus memberi contoh yang baik, seorang guru harus membangkitkan semangat muri-murid, seorang guru harus memberi dorongan agar mandiri atau merdeka.

Pendidikan yang sesuai dengan bangsa adalah Pendidikan yang Humanis, Kerakyatan, dan Kebangsaan.

Manusia merdeka yaitu manusia yang dapat bersandar atsa kekuatan lahir dan bathinnya sendiri dan tidak tergantung pada orang lain.

 

3.    Mendampingi Murid Dengan Utuh dan Menyeluruh

A.    Kodrat Murid

1)      Kodrat Keadaan

Kodrat keadaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dasar pendidikan murid. Kodrat keadaan terdiri dari dua hal yaitu kodrat alam dan kodrat zaman.

2)      Kodrat Alam

Kodrat alam merupakan bagian dari dasar pendidikan murid yang berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan tempat murid berada. Salah satu instrumen untuk pengembangannya adalah melalui pendidikan atau tuntunan. Kita sebagai pendidik dapat merencanakan pengembangan kemampuan berpikir murid agar akal budi murid terus berkembang sesuai kodrat alam nya. Melihat murid sebagai individu yang utuh, bagian dari masyarakat, serta lingkungannya menjadi keharusan bagi tumbuh dan hidupnya murid.

3)      Kodrat Zaman

Kodrat zaman merupakan bagian dari dasar pendidikan murid yang berkaitan dengan isi dan irama. Ki Hadjar Dewantara ingin mengingatkan kita para pendidik untuk menuntun murid mencapai kekuatan-kekuatan kodratnya sesuai dengan alam dan zaman menggunakan asas tricon yaitu kontinyu, konvergen, dan konsentris. Kontinyu, pendidik menuntun murid dengan perencanaan dan pengembangan secara berkesinambungan menyatu dengan alam masyarakat Indonesia untuk mewariskan peradaban. Konvergen, pendidik menuntun murid dengan pemikiran terbuka terhadap segala sumber belajar, mengambil praktek-praktek baik dari kebudayaan lain, dan menjadikan kebudayaan kita bagian dari alam universal. Konsentris, pendidik menuntun murid dengan berdasarkan kepribadian karakter dan budaya kita sendiri sebagai pusatnya.

B.     Trikon

Kali ini kita akan mengulas materi tentang asas Trikon; kontinyu, konvergen, dan konsentris dalam pendidikan serta contoh penerapannya di dalam kelas agar kita dapat memahami tujuan dan asas pendidikan berdasarkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara.

Pendidikan adalah suatu proses yang dinamis. Pendidikan terus berubah dan berkembang sesuai dengan kondisi zaman dan juga kondisi murid. Jangan dibayangkan sistem pendidikan sebagai sebuah sistem besar yang hanya dipikirkan dan diurus oleh para pakar dan penentu kebijakan di pusat. Sekolah atau bahkan kelas juga merupakan suatu system pendidikan dengan ruang lingkup yang kecil namun merupakan ujung tombak berjalannya sistem pendidikan.

 

4.    Mendidik dan Melatih Kecerdasan Budi Pekerti

Budi pekerti atau yang disebut watak diartikan sebagai bulatnya jiwa manusia yang merupakan hasil dari bersatunya gerak pikiran, perasaan, dan kehendak, atau kemauan sehingga menimbulkan suatu tenaga. Budi pekerti juga dapat dimaknai sebagai perpaduan antara cipta (kognitif) dan rasa (afektif) sehingga menghasilkan karsa (psycho motoric).

 

Kita dapat melihat perpaduan antara pengetahuan atau wawasan tentang kejujuran (kognitif) dan perasaan yang mengikutinya seperti ia merasa gelisah jika ia berperilaku tidak jujur atau melihat perilaku ketidakjujuran disekitarnya (afektif) yang kemudian menghasilkan watak atau budi pekerti jujur yang ditampilkan (psikomotorik). Bagian biologis adalah bagian yang berhubungan dengan rasa seperti rasa takut cemas, gelisah, putus asa, tidak percaya diri, senang, bahagia, kecewa, sedih dan sebagainya. Ki Hadjar Dewantara juga menjelaskan bahwa keluarga merupakan tempat utama dan yang paling baik dalam melatih karakter anak atau murid.

Kihajar Dewantara menggunakan teori konvergensi, Teori konvergensi didasarkan atas dua teori utama. Yang pertama TEORI TABULARASA yang beranggapan bahwa kodrat anak ibarat kertas kosong yang dapat diisi dan ditulis oleh pendidik dengan pengetahuan dan wawasan yang diinginkan pendidik. Yang kedua TEORI NEGATIF yang beranggapan bahwa kodrat anak ibarat kertas yang sudah terisi penuh dengan berbagai macam coretan dan tulisan.

5.    Pendidikan yang Mengantarkan Keselamatan dan Kebahagian

Pendidikan dapat mengantarkan murid untuk keselamatan dan kebahagiaan. Guru tidak mengajarkan ilmu pengetahuan saja, tetapi juga memantau, membimbing murid untuk menemukan pemahaman yang bermakna. Guru secara tidak langung berperan memperbaiki bangsa, menerapkan prinsip dan praktik baik pembelajaran mandiri dan kontekstual berdasarkan pengalaman dan pengamatan disekitar, serta orang tua dan masyarakat bisa terlibat didalam prosesnya.

  

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda