JUrnal Refleksi 2.1
JURNAL REFLEKSI
MODUL 2.1 (Minggu ke-6)
Oleh
Lina Rosliana CGP
Angkatan 7
Modul 2 merefleksikan hasil dari
kegiatan di LMS dalam bentuk jurnal refleksi. Jurnal Refleksi Minggu ke-5 ini
membahas materi pada Modul 2.1 bertemakan Pembelajaran Berdiferensiasi.
Refleksi ini ditulis sebagai media untuk mendokumentasikan perasaan, gagasan
dan pengalaman serta praktik baik yang telah saya dilakukan. Model refleksi
menggunakan Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future).
Peristiwa
Pada refeleksi kali ini , CGP mendapat
penguatan dari narasumber dalam elaborasi pemahaman, membuat keterkaitan dengan
materi sebelumnya yang sudah dipelajari, dan diakhiri dengan aksi nyata praktik
pembelajaran berdiferensiasi di kelas sesuai dengan RPP yang sudah dibuat. Dilanjutkan
dengan aksi nyata membuat RPP berdiferensiasi dan mempraktikannya di Kelas
sendiri.
Pembelajaran Modul 2.2 dimulai
dengan mulai dari diri, kami diberikan beberapa pertanyaan tentang pengalaman
yang pernah kami alami yang berhubungan dengan tugas kami sebagai pendidik yang
berkaitan dengan sosial dan emosional. Bagaimana kami menghadapi krisis
tersebut, bagaimana kami bisa bangkit dari krisis tersebut, serta apa yang kami
pelajari dari krisis tersebut. Kemudian ada eksplorasi konsep yang berisi
materi-materi tentang Kompetensi Sosial Emosional, Pembelajarannya serta
Implementasinya di sekolah. Selain itu juga ada tugas-tugas yang berisi
refleksi dari tiap-tiap materi yang telah kami pelajari.
Pembelajaran Sosial dan Emosional
(PSE) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh
komunitas sekolah. Pembelajaran Sosial dan Emosional berdasarkan kerangka kerja
CASEL (Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning) yang
bertujuan untuk mengembangkan 5 (lima) Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE)
yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi,
dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Pembelajaran Sosial Emosional
ini dapat diimplementasikan di kelas atau sekolah dengan 4 indikator yaitu,
pembelajaran eksplisit, integrasi dalam pembelajaran guru dan kuirkulum
akademik, melalui proses menciptakan iklim kelas dan budaya sekolah, serta
penguatan KSE Tenaga pendidik dan Tenaga Kependidikan.
Untuk menambah pemahaman kami
dalam mendalami modul tentang pembelajaran berdifernsiasi, kami juga melakukan
tatap maya dengan fasilitator dalam ruang kolaborasi yang terbagi atas 2 sesi,
yaitu sesi diskusi dan sesi presentasi. Pada hari selasa tanggal 28 Februari
2023, Bapak Joko Sihwidi selaku fasilitator kami memberikan pemantapan tentang
modul pembelajaran sosial emosional yang kemudian kelompok kami yang terdiri
dari saya sendiri Lina Rosliana, ibu Dewi Indriyani, dan Bapak Agus Wahono
diminta untuk melakukan diskusi dengan menganalisis tentang implementasi KSE.
Pada hari berikutnya, 1 Maret 2023 kami melakukan presentasi hasil dari diskusi
kelompok yang sudah kami kerjakan
Perasaan
Pada modul ini membuat penasaran
karena sebagai guru harus memberlakukan siswa sesuai dengan karakteristiknya.
Selama ini hanya berfokus pada ketercapaian materi kurikulum, sehingga yang
saya kejar adalah ketuntasan materi. Efek/ dampak yang ada mengabaikan bahwa
ada banyak keragaman kebutuhan belajar murid dalam satu kelas. Hal ini sesuai
dengan nilai-nilai filosofi dari KHD tentang belajar adalah menuntun murid
mencapai tujuan, dan tentunya guru tidak bisa memaksa masing-masing murid untuk
melewati jalan yang sama dalam mencapai tujuannya, namun guru dituntut bisa
memfasilitasi murid dengan berbagai jalan alternatif yang sesuai dengan
kebutuhan murid.
Pembelajaran
Pembelajaran berdiferensiasi didesain agar guru bisa melaksanakan pembelajaran yang mampu mengakomodir berbagai macam kebutuhan belajar murid. Guru harus memiliki kepekaan dalam merespon semua kebutuhan belajar murid, hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan : bagaimana kesiapan belajar murid; bagaimana minat murid terhadap materi pembelajaran kita; dan seperti apa profil belajar murid. Kemudian dalam kegiatan pembelajaran, guru perlu juga memperhatikan strategi : diferensiasi konten; diferensiasi proses; dan diferensiasi produk. Dan dalam proses penilaian, guru menggunakan penilaian berjenjang. Harapannya, semua murid bisa memperoleh kesempatan yang sama dalam mengikuti pembelajaran, sehingga lingkungan yang aman dan nyaman pun akan didapatkan murid.
Penerapan
Agar pembelajaran berdiferensiasi
dapat diselenggarakan secara efektif, maka perlu pemetaan kebutuhan belajar
murid berdasarkan kesiapan, minat dan profil belajar murid, agar guru dapat
menentukan perbedaan konten, proses, serta produk dalam kegiatan pembelajaran.
Yaitu dengan asesmen diagnostic non kognitif. Data pemetaan bisa diperoleh dari
data murid pada tahun/semester sebelumnya, melalui angket, melalui pengamatan,
atau wawancara dengan sesama rekan guru dan wali murid. Bagi saya ini merupakan
pengetahuan baru, sehingga dalam prakteknya butuh proses dan terus belajar.
Semoga dapat berkontribusi dalam transformasi pendidikan di Indonesia, murid
menjadi aset yang kelak menjadi pemimpin bangsa
Label: Guru Penggerak


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda