Rabu, 01 Februari 2023

Aksi Nyata Modul 1.4 Budaya Positif


Pembuatan Keyakinana Kelas dan Penerapan Segitiga Restitusi
Diseminasi di SMAN 1 Waytenong

Oleh 
Lina Rosliana
CGP Angkatan 7


Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, 2001. menyatakan bahwa arti asli dari kata disiplin ini juga berkonotasi dengan disiplin diri dari murid-murid yang dapat membuat seseorang menggali potensinya menuju kepada sebuah tujuan, sesuatu yang dihargai dan bermakna. bagaimana cara kita mengontrol diri, dan bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang kita hargai. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal.
Dari dua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa murid yang memiliki disiplin positif akan memiliki motivasi internal yang tinggi dalam mengusai diri untuk melakukan Tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal. Sebagai pendidik tugasnya adalah membimbing siswa untuk memiliki disiplin diri yang berasal dari dirinya sendiri.


A. Latar Belakang

Seorang pendidik haruslah mampu memastikan murid dapat tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Seorang guru harus mampu mengusahakan lingkungan sekolah yang benar-benar aman dan nyaman bagi murid serta dapat melindungi murid dari hal-hal yang kurang bermanfaat atau bahkan yang mengganggu perkembangan potensi murid.

Dengan demikian, salah satu tanggung jawab seorang guru adalah bagaimana menciptakan suatu lingkungan positif yang terdiri dari warga sekolah yang saling mendukung, saling belajar, saling bekerja sama sehingga tercipta kebiasaan-kebiasaan baik. Dari kebiasaan-kebiasaan baik akan tumbuh menjadi karakter-karakter baik warga sekolah dan pada akhirnya karakter-karakter baik dari kebiasaan-kebiasaan baik akan membentuk sebuah budaya positif.

Untuk itulah menciptakan lingkungan yang positif menjadi tanggung jawab kita sebagai seorang pendidik, sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Karena dengan lingkungan yang aman dan nyaman akan memberikan kesempatan kepada murid kebebasan dalam berproses memahami pembelajar, belajar, membuat kesalahan, belajar lagi sehingga mereka mampu menerima dan menyerap pembelajaran lebih bermakna. Namun jika lingkungan belajar sudah tidak lagi aman bahkan tidak nyaman bagi murid, maka mustahil murid akan dapat mengembangkan potensinya dengan baik.

Hal yang paling penting untuk menciptakan budaya positif di lingkungan kelas/sekolah adalah tindakan yang konsisten dan kolaboratif semua warga sekolah. Berikut adalah Aksi nyata yang saya laksanakan.


B. Tujuan

Dengan dilaksanakannya penerapan segitiga restitusi dan pembuatan keyakinan kelas ini diharapkan akan tercipta disiplin positif yang konsisten

C. Tolok Ukur

Setelah terlaksananya aksi nyata ini, diharapkan:
- Terdapat poster-poster keyaninan kelas di setiap kelas
- Pendidik dan Tenaga kependidikan dapat penerapkan segitiga restitusi dalam menangani masalah siswa.
- Penerapan nilai- nilai kebajikan melalui keyakinan kelas
- Penerapan posisi kontrol sebagai manajer

D. Linimasa Tindakan Yang Dilakukan

Adapun kegiata- kegiata yang dilakukan adalah:
-  Menyusun modul dan rancangan aksi nyata
- Membuat Power point atau bahan presentasi lain untuk kegiatan diseminasi
- Menemui Kepala sekolah beserta wakilnya untuk meminta izin , menyampaikan rencana , menunjukan modul, dan konsultasi jadwal pelaksanaan.
- Berkolaborasi dan koordinasi dengan tim mengenai hal-hal yang dibutuhkan
- Menentukan alat dan tempat pelaksanaan
- Berlatih presentasi dan mempersiapkan media

E. Dukungan yang dibutuhkan

- Persiapan alat dan tempat berkonsultasi dengan waka sarana dan prasarana
- Tim yang solid
_ Motivasi dari pimpinan dan warga sekolah

F. Kesimpulan

Dari kegiatan pengimbasan  ini kami bersama-sama belajar bagaimana penerapan dan perwujudan Budaya Positif di sekolah.Bapak/Ibu guru sangat antusias sekali menyimak materi budaya positif. Karena dalam materi ini ternyata ada yang cukup membuat kami agak merasa kaget yakni pendisiplinan siswa tanpa adanya hukuman, kemudian kehadiran penghargaan yang ternyata tidak selamanya akan menghasilkan sesuatu yang baik juga materi yang sangat menggugah semangat kami dalam penerapan segitiga restitusi dalam penyelesaian ketidaksiplinan siswa.

Setelah pelaksanaan berbagi praktik baik, rekan guru mulai mencoba untuk menerapkan budaya positif di sekolah. Dimulai dari pembentukan keyakinan kelas, kemudian penerapan program restitusi bagi siswa yang melanggar kedisiplinan, serta menerapkan posisi kontrol sebagai manajer. Hal ini kami laksanakan secara berkolaborasi dengan tujuan agar dapat mencapai sesuatu yang diharapkan yakni munculnya motivasi intrinsik siswa sehingga mereka dapat memunculkan karakter-karakter baik yang nantinya akan menjadi sebuah budaya positif di lingkungan sekolah.











Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda