Koneksi Antar Materi Modul 3.1
Pengambilan Keputusan Berdasarkan Nilai-nilai Kebajikan
Sebagai Pemimpin Pembelajaran
Oleh:
Lina Rosliana
Calon
Guru Penggerak Angkatan 7
Pandangan Ki
Hadjar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap
bagaimana sebuah keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil
Salah
satu hasil pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang terkenal adalah filosofi Pratap
Triloka yang berisi 3 hal pokok yaitu :
Ing ngarso sung tulodo, artinya di depan
menjadi teladan. Dalam pengambilan keputusan maka seyogyanya seorang guru harus
menerapkan prinsip dan paradigma pengambilan keputusan yang tepat sehingga
keputusan yang diambil adalah dapat dijadikan contoh atau teladan bagi murid-murid
baik di kelas maupun kehidupan pribadinya dan akan berdampak pada kesejahteraan
siswa kita.
Ing madya mangun karsa, artinya di tengah membangun semangat .
Hal ini seyogyanya keputusan seorang pemimpin pembelajaran harus bisa
memberikan bagi murid untuk belajar dan mengembangkan potensi diri
Tut wuri handayani. yang artinya di
belakang memberi dukungan dalam penerapannya sebagai pemimpin, keputusan yang
dibutuhkan harus memberikan dukungan, dorongan bagi murid sehingga bisa menjadi
lebih baik.
Berdasarkan hal tersebut guru sebagai
pemimpin pembelajaran seyogyanya menerapkan pengambilan keputusan yang berpihak
pada murid, dengan berpegang teguh pada prinsip atau filosofi pratap triloka.
Dimana nilai ketiga adalah sebagai teladan, sebagai motivator, pemberi dukungan
yang sejatinya harus dimiliki oleh seorang pemimpin pembelajaran maka akan
memberikan dasar yang baik dalam pengambilan keputusan, nilai-nilai tersebut
yang ada dalam pemimpin pembelajaran akan mampu menghasilkan pengambilan
keputusan yang tepat, bertanggung jawab dan berpihak pada kepentingan murid.
Pengaruh
nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, terhadap prinsip-prinsip yang kita
ambil dalam pengambilan suatu keputusan
Nilai-nilai yang dimiliki seseorang akan
pikiran seseorang dalam suatu keputusan. nilai-nilai dalam diri akan menentukan
cara pandang terhadap situasi atau masalah, prinsip kita dalam memutuskan
sesuatu. Sebagai seorang pembelajaran guru berpegang teguh pada nilai
keberpihakan pada murid, nilai religiusitas, dan nilai moral kebajikan
universal serta nilai tanggung jawab sehingga dapat menghasilkan keputusan yang
dapat ditanggung jawabkan.
Dalam pengambilan suatu keputusan sangat
dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita. Nilai-nilai bagaikan
gunung es yang hanya terlihat kecil dipermukaan air tetapi merupakan bagian
yang besar di dalam alam bawah sadar kita. Maka penting untuk memupuk
nilai-nilai positif dalam diri kita yang nantinya akan menjiwai setiap
keputusan yang kita ambil.
Kaitan pengambilan
keputusan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau
fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian
pengambilan keputusan yang telah kita ambil.
Coaching adalah ketrampilan yang sangat
penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam
diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching
TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat
pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila
dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian
keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.
Pembahasan studi
kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang
dianut seorang pendidik.
Pada pembahasan studi kasus yang berfokus
pada masalah moral atau etika diperlukan kesadaran diri atau selfawareness dan
keterampilan berhubungan sosial untuk mengambil keputusan. Kita dapat
menggunakan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan
terutama pada uji legalitas untuk menentukan apakah masalah tersebut termasuk
bujukan moral yang berarti benar vs salah ataukah dilema etika yang merupakan
permasalahan benar vs benar. Apabila permasalahan yang dihadapi adalah bujukan
moral maka dengan tegas sebagai seorang guru, kita harus kembali ke nilai-nilai
kebenaran. Pengambilan
keputusan adalah memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang
efisien sesuai dengan situasi yang dialami. Sehingga nilai-nilai yang dianut
seseorang akan menentukan sudut pandang, kecendrungan paradigma dan prinsip
yang diambil seseorang dalam membuat keputusan.
Dilema Etika adalah situasi dimana terjadi
batin karena situasi yang memiliki situasi yang sama namun bertentangan. Etika
berarti nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau
kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Sehingga keputusan yang diambil
mencerminkan nilai-nilai yang dianut atau dijunjung tinggi. untuk itu dalam
memutuskan kasus dilema etika maka guru harus memegang teguh 4 paradigma, 3
prinsip dan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan.
Dampak pengambilan
keputusan yang tepat, pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman
dan nyaman
Pengambilan keputusan yang tepat akan
memiliki konsekuensi positif terhadap institusi atau lembaga diaman kita
berada. Pengambilan keputusan adalah bagian terberat dari tugas sebagai
pemimpin pembelajaran, karena secara langsung atau tidak langsung keputusan
kita akan berpengaruh terhadap institusi yaitu dalam hal ini sekolah atau
lingkungan tempat kita berada, dan terutama komunitas dimana kita berada atau
siswa yang mungkin juga berpengaruh terhadap kualitas pendidikan.
Sehingga dalam membuat keputusan kita
harus memikirkan konsekuensi yang efektif dari keputusan kita, dengan terlebih
dahulu memikirkan terlebih dahulu keputusan kita menggunakan prinsip-prinsip
pengambilan keputusan yang. Karena jika keputusan kita tepat, maka akan
terwujud lingkungan yang positif, juga kondusif serta aman dan nyaman, karena
keputusan kita menentukan hal tersebut dan begitu juga sebaliknya. Jika kita
salah mengambil keputusan, tentu saja konsekuensinya juga tidak akan baik dan
berdampak buruk pada lingkungan dan orang-orang yang beroperasi secara langsung
maupun tidak langsung dengan keputusan kita.
Kesulitan-kesulitan
di lingkungan yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan
terhadap kasus-kasus dilema etika ini.
Pada kenyataannya yang
terjadi di lingkungan adalah :
Perbedaan cara pandang dan kepentingan
dari orang-orang yang berada dalam masalah dan juga sulitnya mengubah pola
pikir atau cara berpikir orang lain dalam memandang dilema etika. Untuk dapat
menghasilkan keputusan yang tepat, tentu kita harus memiliki pengetahuan
tentang bagaimana orang hebat mengambil keputusan, prinsip ataupun paradigma
apa yang digunakan dan juga bagaimana menguji tepat atau tidaknya keputusan
kita. Sehingga kita bisa memastikan apakah keputusan itu tepat, nah
kesulitannya adalah mengubah cara pandang mengenai prinsip pengambilan
keputusan ini,sehingga bisa langsung dalam pengambilan keputusan. Nilai dan budaya
masyarakat yang ada di lingkungan, kesulitannya adalah bagaimana mengakomodasi
nilai budaya di lingkungan dalam keputusan yang diambil sehingga bisa
menghasilkan keputusan yang tentunya tepat dan tidak bertentangan dengan nilai
moral umum.
Kita harus menyadari bahwa paradigma
berpikir orang yang berbeda dan begitu juga dengan skala prioritas sehingga
sulit bagi kita juga dalam mengambil keputusan yang bisa diterima dan diterima
semua orang.
Pengaruh
pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan
murid-murid kita
Keputusan yang kita ambil sebagai pemimpin
pembelajaran tentunya harus memerdekakan murid-murid kita. Keputusan seorang
guru dalam proses pembelajaran dilakukan dengan cara memberikan tuntunan yang
bisa mengarahkan siswa pada pengembangan potensi, kebebasan berpendapat dan
kebebasan mengekspresikan diri dalam proses pembelajaran sehingga mereka
mendapatkan kebebasan belajarnya. Guru adalah pemimpin pembelajaran sebagai
pamong, seorang guru berperan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki murid
sebagaimana petani yang menyemai benih untuk mendapatkan hasil yang baik
sehingga setiap keputusan guru akan berpengaruh pada masa depan murid.
Pengaruh
Pengambilan keputusan seorang pemimpin pembelajaran bagi kehidupan atau masa
depan murid-murid
Kita sudah mengetahui bahwa salah satu
tugas terberat sebagai pemimpin pembelajaran adalah mengambil keputusan yang
tepat, karena kita sadar bahwa keputusan yang kita ambil akan berpengaruh
secara langsung maupun tidak langsung kepada sekolah atau institusi dimana kita
berada terutama untuk murid kita.
Kita juga harus memahami bahwa keputusan
yang kita ambil memiliki konsekuensi dari keputusan kita yang kita ambil
sebagai pembelajaran. Ketika kita mengambil keputusan yang berpihak pada murid,
maka murid kita akan belajar menjadi orang yang merdeka dan juga bisa mengambil
keputusan yang tepat kelak dan tumbuh pribadi yang matang dan cermat dalam
mengambil keputusan.
Pengambilan keputusan guru dapat
mempengaruhi masa depan murid, selain itu kejujuran yang kita yakini dan aturan
yang kita ikuti, ada perspektif lain yang kita harus sadari yaitu ketidakberpihakan
pada murid kita atau kemaslahatan murid.
Dalam situasi dilema etika dimana kita
harus membuat keputusan , maka 4 pradigma pengambilan keputusan menjadi hal
utama yang dipegang, dimana sebagai makhluk sosial yang hidup dengan nilai dan
peraturan yang berlaku, maka kadang-kadang adalah hal yang benar untuk
mengikuti aturan namun juga terkadang membuat juga merupakan tindakan yang
benar. Pilihan untuk memegang aturan dapat dibuat berdasarkan rasa, namun untuk
membengkokkan aturan dapat dibuat berdasarkan rasa adil atau membantu murid.
Prinsip berpikir inilah yang menjadi penting bagi pemimpin pembelajaran dalam
keputusan demi masa murid.
Kesimpulan yang
didapat dari pembelajaran modul ini dan kaitannya dengan modul-modul sebelumnya
Pengambilan keputusan adalah suatu
kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan
kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin
pembelajaran. Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif yang
akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (wellbeing).
Dalam
pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh
(mindfullness) untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila. Dalam
perjalanannya menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema etika dan
bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkan pengambilan dan
pengujian keputusan.
Sebagai seorang pemimpin pembelajaran guru
harus mampu menerapkan Prinsip pratap triloka dari Ki hadjar Dewantara, yaitu
Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani. Sebagai
penuntun, guru juga harus memiliki dasar pengambilan keputusan yaitu berupa
nilai yang berpihak pada siswa dengan berpedoman pada nilai-nilai moral,
religiusitas dan nilai-nilai universal serta bertanggung jawab.
Dibutuhkan nilai-nilai kebajikan agar
setiap keputusan yang diambil oleh guru merupakan keputusan yang paling tepat
dengan resiko yang paling minim bagi semua pihak, terutama bagi kepentingan
/keberpihakan pada anak didik kita. Nilai-nilai kebajikan tersebut dapat berupa
: keadilan, tanggung Jawab, kejujuran, bersyukur, lurus hati, berprinsip,
integritas, kasih Sayang, rajin, komitmen, percaya diri, kesabaran, dan masih
banyak lagi. Mengajarkan nilai-nilai kebajikan merupakan hal kunci yang perlu
diajarkan kepada murid-murid kita. Selain itu terdapat nilai khusus bagi Calon
guru Penggerak yang akan menjadi role model bagi murid yaitu : mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid ,
tentunya akan sangat mempengaruhi paradigma dan prinsip pengambilan keputusan
seorang Guru Penggerak .
Dalam membuat keputusan dibutuhkan juga
menghargai visi, misi sekolah, budaya dan nilai sebagai pengambilan keputusan
di sekolah sebagai pemimpin pembelajaran. Guru juga harus mandiri belajar murid
dengan mengarahkan murid pada proses pembelajaran dan pengembangan potensi
siswa melalui proses pembinaan sehingga dapat mengambil keputusan dengan tepat
dan hal ini akan memudahkan siswa dalam menentukan masa kelak.
Kompetensi sosial emosional yang matang
dari seorang guru akan mendukungnya dalam pengambilan keputusan yang tepat.
Kompetensi ini meliputi kesadaran diri atau selfawareness, Pengelolaan diri
(selfmanagement), Kesadaran sosial atau kesadaran sosial, dan keterampilan
berhubungan sosial (relationship skill).
Sebagai pemimpin pembelajaran maka ketika
kita berada dalam situasi dilema etika maupun moral, kita menggunakan prinsip
kesadaran penuh atau mindfullness sehingga kita akan sadar dengan berbagai opsi
dan konsekuensi yang ada, keputusan yang dihasilkan pun dapat dipermudah dan
bermanfaat. Selain itu, pembelajaran di kelas dengan mengambil strategi untuk
membedakan yang sesuai kebutuhan belajar murid akan mampu mengarahkan siswa
pada proses pengembangan potensi mereka dan juga melalui proses pembinaan
sehingga mereka dapat mencapai kemerdekaan belajarnya.
Pemahaman Inti Modul 3.1
1. Sekolah adalah
‘institusi moral’, yang dirancang untuk mengajarkan norma-norma sosial.
2. Keputusan-keputusan
yang diambil di sekolah akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi
oleh sekolah tersebut, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga
sekolah.
3. Pendidik adalah
teladan bagi murid untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila.
4. Dibutuhkan keberanian
dan kepercayaan diri untuk menghadapi konsekuensi dan implikasi dari keputusan
yang kita ambil karena tidak ada keputusan yang mengakomodasi seluruh
kepentingan para pemangku kepentingan.
Setiap keputusan yang kita ambil akan
ada konsekuensi yang mengikutinya, dan oleh sebab itu setiap keputusan perlu
berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal dan
berpihak pada murid. Sebagai upaya pengambilan keputusan yang tepat,
yang berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan
nyaman dapat dilakukan Sebagai
upaya pengambilan keputusan yang tepat, yang berdampak pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman dapat dilakukan dengan
bebrapa tahap berikut, yaitu :
- Mengidentifikasi
jenis-jenis paradigma dilema etika yang sesui dari suatu kasus
- Memilih dan memahami 3
(tiga) prinsip yang dapat dilakukan untuk membuat keputusan dalam dilema
pengambilan keputusan.
- Menerapkan 9 langkah
pengambilan dan pengujian keputusan yang diambil dalam dilema etika
- bersikap
reflektif, kritis, dan kreatif dalam proses tersebut
Karena itu, dibutuhkan
keterampilan Kepemimpinan Pendukung Pemimpin Pembelajaran, diantaranya,
adalah sebagai berikut :Pengetahuan diri, Manajemen Waktu dan Kehidupan, Agen
Perubahan,Tujuan dan Usaha Bersama, Pengambilan Keputusan Beretika, Pengaruh
Komunikasi Persuasif, Budaya Iklim Komunitas, Transisi Kepemimpinan dan
Perencanaan Suksesi, Arahan yang Jelas dan Tegas.
Sejujurnya selama ini saya sering berada dalam situasi dilema etika maupun moral, dan sayapun membuat keputusan berdasarkan nilai-nilai yang saya yakini dan juga berdasarkan peraturan yang berlaku. Sayapun belum memiliki prinsip yang jelas dan dasar pengetahuan tentang bagaimana keputusan yang baik itu dibuat. Sehingga saya sering bertanya pada teman sejawat dalam memecahkan masalah yang saya hadapi, karena memang saya juga belum merasa percaya diri dan ragu-ragu dalam mengambil keputusan sendiri.
Setelah mempelajari modul 3.1 tentang pengambilan keputusan, Saya menyadari bahwa pengambilan keputusan merupakan tugas paling berat sebagai pemimpin pembelajaran, karena keputusan yang dibuat sebagai pemimpin pembelajaran akan berdampak secara langsung maupun tidak langsung terhadap intitusi atau dalam hal ini sekolah sebagai institusi moral, dimana guru berperan sebagai teladan dan keputusan tersebut juga berdampak pada murid-murid bahkan kualitas pendidikan di sekolah.
Saya juga menyadari perlunya pengetahuan dasar dalam mengambil keputusan yang beretika, prinsip-prinsip pengambilan keputusan, nilai-nilai atau paradigma berpikir, maupun langkah-langkah pengambilan dan pengujian keputusan, sehingga menghasilkan keputusan yang bertanggung jawab dan berpihak pada murid.Saya merasa bersyukur karena dalam modul 3.1 ini saya bisa memahami tentang pengambilan keputusan yang tepat.
Lina Rosliana
Label: Pendidikan




0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda