Rabu, 31 Januari 2024

Koneksi Antar Materi Modul 1.1

KONEKSI ANTAR MATERI

MODUL 1.1

Lina Rosliana

 

Saya adalah calon guru penggerak angkatan 7 dari SMAN 1 Waytenong Lampung Barat. Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan kesimpulan dan refleksi materi modul 1.1 pilosofi Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara.

Seperti yang kita ketahui, Ki Hajar Dewantara adalah Bapak Pendidikan Indonesia yang lahir pada tanggal 2 Mei 1889.  

Menurut Ki Hajar Dewantara, pengajaran adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan.

Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri (kodrat). pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun tujuannya adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak. Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Merdeka belajar sebagai gagasan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang membebaskan guru dan murid berexpresi, berinovasi, dan dapat menentukan pembelajaran yang bebas, aman dan nyaman.

 

 

1.      Apa yang Anda percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum Anda  mempelajari modul 1.1?

 

Sebelum mempelajari modul 1.1 mengenai Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hajar Dewantara, sebagai guru saya meyakini beberapa hal sebagai berikut:

 

1.      Pengajaran sama dengan Pendidikan. Guru adalah subjek utama kegiatan pembelajaran. Sebagai guru saya harus mampu mentransfer ilmu kepada peserta didik saya secara klasikal (ceramah, diskusi, dan tanya jawab). Saya menganggap siswa tidak akan paham kalau materi pelajaran tidak saya jelaskan.

2.      Peserta didik dikatakan telah belajar jika mereka bisa mengerjakan soal asesmen sesuai dengan kompetensi dasar yang tertera di kurikulum serta nilainya mampu melampaui KKM.

3.      Membatasi hubungan antara guru dan murid, atau seoarang anak dan orang tuanya, padahal guru bisa saja menjadi seorang teman.

4.      Memberikan tugas yang seragam tanpa mempertimbangkan keragaman potensi peserta didik. Tidak mengidentifikasi perbedaan kemampuan anak dan potensi anak sehingga mensamaratakan metode pembelajaran

5.      Kegiatan belajar selalu dilaksanakan lebih sering di dalam kelas

6.      Menganggap Pemberian sanksi kepada peserta didik dapat mengubah perilaku mereka ke arah yang lebih baik

2.      Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari modul ini?

Banyak hal yang saya pelajari tentang konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara melalui modul 1.1 Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hajar Dewantara. Konsep-konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara memberi pengaruh yang cukup signifikan terhadap pemikiran saya tentang pendidikan. Pengajaran ternyata tidak sama dengan pendidikan. Pengajaran (onderwijs) itu merupakan salah satu bagian dari pendidikan.

Hidup tumbuhnya anak terletak di luar kecakapan atau kehendak kita sebagai kaum pendidik. Anak-anak adalah makhluk, yang hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Kita kaum pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan-kekuatan kodrat itu, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya itu. Seperti benih padi akan tumbuh menjadi padi, kita tidak bisa merubahnya menjadi jagung.

Pendidikan akan berubah sesuai kodratnya, yaitu kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam anak berbeda-beda. Kodrat alam anak yang tinggal di pegunungan akan beda kodratnya dengan anak yang tinggal di pesisir pantai. Mereka akan memiliki potensi, bakat dan minat yang berbeda. Maka kita harus menyadari bahwa setiap anak itu beragam dan mempunyai keunikan sendiri-sendiri. Sedangkan kodrat zaman berhubungan dengan zaman yang dialami oleh peserta didik pada saat pengajaran atau pendidikan berlangsung. Untuk pendidikan saat ini, para pendidik harus menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki keterampilan abad ke 21 (creative, critical thinking, collaboration, communication).

Menurut KHD ada 3 prinsip untuk melakukan perubahan atau sering disebut 3 asas Trikon, diantaranya yaitu: Kontinuitas, konvergensi, dan konsentris. Kontinuitas maksudnya adalah ketika belajar kita harus berkelanjutan. Kita tidak boleh melupakan budaya dan sejarah dalam melakukan perubahan. Konvergensi maksudnya adalah pendidikan harus memanusiakan manusia dan memperkuat nilai kemanusiaan kita. Dan yang terakhir adalah konsentris maksudnya adalah pendidikan harus menghargai keberagaman dan memerdekakan pembelajar. Jadi jelas sekali terlihat bahwa pendidikan itu memerdekakan.

Kekuatan sosio-kultural menjadi proses ‘menebalkan’ kekuatan kodrat anak yang masih samar-samar. Pendidikan bertujuan untuk menuntun (memfasilitasi/membantu) anak untuk menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki laku-nya untnuk menjadi manusia seutuhnya. Jadi anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa.

Menurut KHD, budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor).

3. Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda mencerminkan pemikiran KHD?

Ada beberapa hal yang saya terapkan agar kelas saya mencerminkan Ki Hajar Dewantara adalah sebagai berikut:

Pertama, saya mengubah mindset saya bahwa guru bukan satu-satunya sumber belajar. saya harus memberikan kebebasan dan keleluasaan kepada anak didik untuk menggali ilmu dari berbagai sumber.

saya meyakinkan diri saya bahwa setiap anak terlahir dengan potensinya masing-masing, meskipun masih terlihat samar. Saya harus mampu menemukan dan mengenali setiap potensi anak yang saya didik agar pengajaran dan pendidikan yang saya berikan mampu menggali potensi, bakat yang ada pada mereka. Intinya, memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengeksplor potensi diri

Kedua, saya memilih media dan metode pembelajaran yang bisa menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Hal ini sesuai dengan kodrat anak yaitu bermain. Kita bisa mengkolaborasikan permainan ke dalam kegiatan pembelajaran.

Ketiga, saya harus mengupayakan pembelajaran yang berpusat pada anak. Memberikan ruang, kesempatan, dan fasilitas seluas-luasnya agar anak mampu berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Saya sebagai pendidik, menempatkan diri saya sebagai fasilitator yang menuntun anak agar ia mampu mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Di akhir pembelajaran penting bagi saya untuk memberikan penguatan terhadap materi-materi konseptual Selain itu,

Keempat, saya harus mampu mewujudkan merdeka belajar sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara yang menggikuti kodrat alam dan kodrat zaman dengan melakukan proses pembelajaran melalui pembelajaran yang mengasah keterampilan abad 21 agar anak mampu mengikuti perkembangan zaman yang semakin hari semakin maju terutama dalam segi tekhnologi, ini sesuai dengan kodrat zaman dimana setiap zaman akan berubah-rubah tantangannya. Lalu, dikelas maupun di sekolah menyisipkan sosio kultural dengan maksud untuk menebalkan laku anak sesuai alam dan lingkungannya sehingga tertanam pembiasaan-pembiasaan yang baik.

Keempat, sebagai wujud dari tujuan pendidikan yang utama yaitu lahirnya anak yang tidak hanya kompeten dari segi akademis, tapi juga berbudi pekerti yang baik. Saya sebagai guru harus bisa juga memberikan teladan yang baik. Jadi anak tidak hanya melakukan apa yang saya katakan, tapi harapannya anak mampu meneladani perilaku-perilaku baik yang saya contohkan. Selain sebagai upaya memotivasi anak agar berbudi pekerti baik, ini juga bisa jadi tantangan untuk saya bagaimana caranya agar saya bisa konsisten memberikan keteladanan yang baik. Guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru. saya berharap saya bisa memaknai semboyan Ki Hajar Dewantara, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, dari atas saya bisa memberikan teladan bagi setiap anak didik saya, Ing Madyo Mangun Karso di tengah saya bisa jadi teman yang memberikan semangat, serta Tut Wuri Handayani dari belakang saya bisa memberikan dorongan moral serta semangat belajar.

Saya akan menanamkan karakter anak sesuai prof

Label:

Selasa, 30 Januari 2024

Demonstrasi Kontekstual Modul 1.1




 

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL

Modul 1.1


1.1.a.6 Demonstrasi kontektual

Senin, 31 Oktober 2022

Ki Hajar Dewantara memaknai pendidikan secara filosofi. Filosofi ini lahir sebagai upaya memerdekakan manusia dari aspek lahiriah yaitu keluar dari kemiskinan dan kebodohan, serta aspek batiniah yaitu memiliki otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas dan demokratik. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun tujuannya adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Merdeka belajar adalah sebagai gagasan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang membebaskan guru dan murid berexpresi, berinovasi, dan dapat menentukan pembelajaran yang bebas, aman dan nyaman.

1. Memberika kebebasan kepada peserta didik untuk mengeksplor potensi diri.

2. Mewujudkan merdeka belajar sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara yang menggikuti kodrat alam alam dan kodrat zaman.

3. Menciptakan pembelajaran yang berpusat pada murid.

dibekali cara bersikap, beradab dengan seorang guru, dengan teman dengan menjujung tinggi nilai-nilai karakter yang kuat untuk ditanamkan kepada siswa. Seperti kedisplinan, tanggung jawab, kejujuran dan lain sebagainya. 

Hal itu terlihat dalam tatanan yang kami bangun dalam melangkah. Kedua, menggali potensi siswa. Sebagaimana yang kita tahu, siswa memiliki bakat dan minat yang berberda-beda. Maka kita menyediakan berbagai macam teknik pengajaran yang berbeda. 

Selain itu dalam menggali kompetensi, kami mempunyai beragam aktivitas baik keagamaan, pengetahuan, keolahragaan, semua kami rangkul untuk siswa kami menemukan dan mengasah apa yang menjadi "passion" dalam dirinya. 

Kemudian yang terakhir, sekolah kami sudah terintegrasi dengan berbagai macam dukungan teknologi. Sehingga siswa kami melek akan teknologi dan bisa menjawab tantangan jaman yang semakin sengit perkembangannya. Baik kemampuan mengenal dan mengoprasikan teknologi, pembelajaran yang kami terapkan pun cukup memadai.

Pembelajaran yang kami terapakan  dalam mencapai karakter siswa sebagai profil pelajar pancasila yaitu pembiasan yang dilakukan terus-menerus.     

Contoh dalam pembelajaran di kelas dalam mencapai karakter beriman, bertakwa kepada Tuhan YME yaitu berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran. 

Karakter berakhlak mulia dapat tercapai dengan siswa yang sopan dan menghargai gurunya seperti membungkukkan badan dan meminta ijin ketika akan keluar kelas ke toilet. Karakter berkebhinekaan global tercapai ketika siswa saling menghargai, tidak mengejek apalagi membully temannya. Karakter gotong royong di kelas dapat terlihat dari kerja sama mereka dalam membuat projek bersama kelompok. 

Karakter Mandiri dapat terlihat dari siswa yang selalu tahu situasi yang dihadapinya dan bertanggungjawab atas dirinya tanpa disuruh atau perintah. 

Karakter bernalar kritis terlihat dalam siswa yang dapat memberikan masukan maupun kritik dari kelompok lain yang sedang menyajikan hasil presentasi. Sedangkan karakter kreatif adalah hasil dari karya siswa yang siap disajikan atau dipresentasikans dengan gagasan dan ide yang mereka bangun.

Sedangkan progam-progam sekolah dalam menciptakan profil pelajar pancasila dapat terlihat dari berbagai kegiatan yang dilakukan oleh siswa. 

Contohnya seperti kegiatan OSIS, Kepramukaan, Olahraga, dan Ektrakulikuker yang lain. Tahun Pelajaran ini, sekolah kami membuat  progam tambahan yakni progam projek sekolah.

Projek sekolah kami jadwalkan ada 3 projek yang sudah terplot akan dilaksanakan sesuai waktu yang sudah ditentukan. Semua itu tentu demi tumbuh kembangnya potensi siswa sesuai kodrat alam dan kodrat zaman saat ini.

Jadi dengan semua yang ada dalam lingkungan sekolah saya, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak bahagia, untuk tidak dalam pembelajaran yang menyenangkan. Saya bisa menerapakan berbagai metode dan memvariasi sesuai asas pembelajaran yang aman dan menyenangakan guna menciptakan Profil Pelajar Pancasila.

Label: ,