Selasa, 21 Februari 2023

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.1

 

Koneksi Antar Materi Modul 2.1

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI 

Oleh 

Lina Rosliana

CGP Angkatan 7

 

Dalam koneksi antar materi modul 2.1 ini saya sebagai CGP harus melakukan refleksi secara individu terhadap perjalanan pembelajaran saya hingga saat ini dengan merespon beberapa pertanyaan dan tugas berikut ini.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang didalamnya terdapat serangkaian kegiatan yang disusun secara sistematis oleh guru agar mampu mengakomodir seluruh kebutuhan murid yang berbeda di dalam kelas atau lingkungan sekolah. Sebagai guru, tentunya dipahami bahwa jumlah murid yang diajar di dalam kelas memiliki keberagaman tersendiri karena sejatinya setiap murid memiliki keunikannya masing-masing. Dengan keunikan tersebut, guru sebagai pendidik bertindak sebagai fasilitator dalam memahamkan materi kepada murid dan memfasilitasi agar semua murid mampu memproses ide atau informasi yang diperolehnya serta mampu mengembangkan suatu produk sesuai dengan kemampuan muridnya masing-masing. Untuk itu, pada pembelajaran berdiferensiasi, perlu persiapan atau strategi pembelajaran yang tepat dari guru baik meliputi diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk dengan mengacu pada aspek pemetaan kebutuhan belajar murid.

Dasar pemetaan kebutuhan belajar murid dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi meliputi tiga hal, yaitu:

  1. Kesiapan Belajar Murid
  2. Minat Belajar Murid
  3. Profil Belajar Murid

Alasan mengapa pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai pembelajaran optimal yaitu:

a. Pembelajaran berdiferensiasi bersifat proaktif.

b. Pembelajaran berdiferensiasi lebih bersifat kualitatif dari pada kuantitatif.

c. Pembelajaran berdiferensiasi berakar pada penilaian.

d. Pembelajaran berdiferensiasi menggunakan berbagai pendekatan terhadap konten, proses, dan produk.

e. Pembelajaran berdifernsiasi berpusat pada murid.

f. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan perpaduan dari pembelajaran seluruh kelas, kelompok, dan individual.

g. Pembelajaran berdifernsiasi bersifat "organik" dan dinamis. 

Pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal

Pemetaan kebutuhan murid berdasarkan profil belajar murid lebih kepada bagaimana murid belajar sesuai dengan gaya belajarnya yang beragam atau bervariasi. Misalnya pada diferensiasi proses, untuk murid yang memiliki gaya belajar visual maka pada proses pembelajaran guru dapat memberikan materi dengan menggunakan media berupa gambar-gambar, tampilan slide power point, grafik dan sebagainya yang membantu murid dalam belajar dan mengaitkan konsep satu dengan yang lainnya sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Demikian pula, untuk murid yang memiliki gaya belajar auditori maka guru dapat memberikan materi menggunakan atau diiringi dengan musik.

Dengan ketiga dasar pemetaan tersebut, guru akan mampu merancang pembelajaran berdiferensiasi dengan baik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai, yaitu mampu mengakomodir segala perbedaan dari murid, apa yang dibutuhkan oleh murid dalam belajar dan apa yang dapat dilakukan oleh murid terhadap pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya serta bagaimana guru dapat merespon seluruh kebutuhan belajar murid yang berbeda tersebut. Pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti bahwa guru harus melakukan kegiatan yang berbeda dalam membuat perencanaan pembelajaran atau menyusun beberapa perencanaan pembelajaran untuk setiap kali pertemuan. Namun, dalam melakukan praktek pembelajaran berdiferensiasi tentunya harus dilakukan secara efektif dan efisien, mempertimbangkan moda, usaha dan waktu yang digunakan.

Melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi dengan efektif dan efisien juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Sebagai guru, tentu memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan atmosfer lingkungan belajar yang memungkinkan murid untuk berada dalam kondisi jauh dari rasa takut, berani dan tampil percaya diri dalam mengungkapkan ide atau pendapat, senang dalam berkolaborasi, berpartisipasi aktif dalam diskusi, menyukai tantangan atau hal-hal baru sehingga murid mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna. Dalam hal ini, berbagai pendekatan dilakukan oleh guru terhadap konten, proses dan produk dalam pembelajaran berdiferensiasi untuk menumbuhkan motivasi murid agar menjadi pembelajar sepanjang hayat. Demikian pula, umpan balik, evaluasi dan refleksi secara kontinyu juga terus dilakukan agar guru pun menjadi pembelajar sepanjang hayat. Jika pembelajaran berdiferensiasi ini dilakukan dengan efektif dan efisien maka semua murid akan merasa aman dan nyaman dalam belajar serta pemenuhan kebutuhan murid dapat terwujud, tidak akan ada murid yang merasa diistimewakan atau sebaliknya. Implementasi pembelajaran berdiferensiasi ini juga akan memberikan kemudahan bagi guru dalam memetakan dan mengakomodir seluruh kebutuhan murid untuk mempersiapkan mereka dalam menghadapi tantangan dan perubahan zaman yang selalu berubah.

Kaitan antar materi dalam modul 2.1 dengan modul sebelumnya

Dalam modul 1.1 Filosofi pendidikan KHD pembelajaran berdiferensiasi dapat mewujudkan Merdeka Belajar. Karena berdasarkan pemikiran KHD, pendidikan adalah menuntun anak sesuai kodrat alam dan zaman dengan berpihak pada anak sesuai perkembangan minat, bakat dan potensi anak. Hal ini berkaitan erat dengan pembelajaran berdiferensiasi yang bertujuan memberikan pembelajaran kepada anak dengan cara memetakan kebutuhan murid sesuai kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid.

Dalam modul 1.2 tentang nilai-nilai dan peran Guru Penggerak maka dapat dikaitkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat dikaitkan dengan nilai Guru Penggerak yaitu mandiri (guru harus mandiri membuat dan menyediakan media pembelajaran), reflektif ( guru harus merefleksikan apa yang sudah dilakukan dalam pembelajaran terkait dengan kesiapan belajar murid), kolaboratif (guru dapat berkolaborasi dengan guru lain untuk menciptakan pembelajaran yang berdifernsiasi), inovatif (guru harus bisa menciptakan pembelajaran dan media pembelajaran yang beragam untuk memenuhi kebutuhan belajar murid), dan berpihak pada murid (pembelajaran berdiferensiasi berakar pada kebutuhan belajar murid). Sedangkan kaitannya dengan peran Guru Penggerak maka pembelajaran berdiferensiasi bisa dikaitkan dengan menggerakkan komunitas praktisi (guru bisa berbagi pembelajaran berdiferensiasi dalam komunitas praktisi), menjadi coach bagi guru lain (guru bisa memberikan pendampingan terhadap guru lain dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi), mendorong kolaborasi (guru dapat berkolaborasi dengan guru lain untuk melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi), dan mewujudkan kepemimpinan murid (dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensisi murid bisa dijadikan sebagai pemimpin kelompoknya secara bergantian)

Kaitan dengan modul 1.3 tentang visi guru penggerak, seorang guru penggerak tentunya memiliki visi untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Pembelajaran berdiferensiasi adalah salah satu jawaban dari bagaimana cara mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid.

Kaitan dengan modul 1.4 tentang budaya positif, pembelajaran berdiferensiasi adalah salah satu perwujudan dari bentuk pelaksanaan keyakinan kelas, karena dalam pembelajaran berdiferensiasi murid dikelompokkan dalam beberapa kelompok. Dalam kelompok tersebutlah murid menerapkan beberapa keyakinan kelas diantaranya saling menghargai pendapat teman, bekerja sama, menciptakan rasa aman,  dan masih banyak lagi keyakinan kelas yang tercipta dari adanya pembelajaran berdiferensiasi.

Demikian pemaparan saya tentang koneksi antar materi modul 2.1 Pembelajaran Berdifernsiasi.


 

 

Label: ,

Rabu, 01 Februari 2023

Aksi Nyata Modul 1.4 Budaya Positif


Pembuatan Keyakinana Kelas dan Penerapan Segitiga Restitusi
Diseminasi di SMAN 1 Waytenong

Oleh 
Lina Rosliana
CGP Angkatan 7


Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, 2001. menyatakan bahwa arti asli dari kata disiplin ini juga berkonotasi dengan disiplin diri dari murid-murid yang dapat membuat seseorang menggali potensinya menuju kepada sebuah tujuan, sesuatu yang dihargai dan bermakna. bagaimana cara kita mengontrol diri, dan bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang kita hargai. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal.
Dari dua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa murid yang memiliki disiplin positif akan memiliki motivasi internal yang tinggi dalam mengusai diri untuk melakukan Tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal. Sebagai pendidik tugasnya adalah membimbing siswa untuk memiliki disiplin diri yang berasal dari dirinya sendiri.


A. Latar Belakang

Seorang pendidik haruslah mampu memastikan murid dapat tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Seorang guru harus mampu mengusahakan lingkungan sekolah yang benar-benar aman dan nyaman bagi murid serta dapat melindungi murid dari hal-hal yang kurang bermanfaat atau bahkan yang mengganggu perkembangan potensi murid.

Dengan demikian, salah satu tanggung jawab seorang guru adalah bagaimana menciptakan suatu lingkungan positif yang terdiri dari warga sekolah yang saling mendukung, saling belajar, saling bekerja sama sehingga tercipta kebiasaan-kebiasaan baik. Dari kebiasaan-kebiasaan baik akan tumbuh menjadi karakter-karakter baik warga sekolah dan pada akhirnya karakter-karakter baik dari kebiasaan-kebiasaan baik akan membentuk sebuah budaya positif.

Untuk itulah menciptakan lingkungan yang positif menjadi tanggung jawab kita sebagai seorang pendidik, sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Karena dengan lingkungan yang aman dan nyaman akan memberikan kesempatan kepada murid kebebasan dalam berproses memahami pembelajar, belajar, membuat kesalahan, belajar lagi sehingga mereka mampu menerima dan menyerap pembelajaran lebih bermakna. Namun jika lingkungan belajar sudah tidak lagi aman bahkan tidak nyaman bagi murid, maka mustahil murid akan dapat mengembangkan potensinya dengan baik.

Hal yang paling penting untuk menciptakan budaya positif di lingkungan kelas/sekolah adalah tindakan yang konsisten dan kolaboratif semua warga sekolah. Berikut adalah Aksi nyata yang saya laksanakan.


B. Tujuan

Dengan dilaksanakannya penerapan segitiga restitusi dan pembuatan keyakinan kelas ini diharapkan akan tercipta disiplin positif yang konsisten

C. Tolok Ukur

Setelah terlaksananya aksi nyata ini, diharapkan:
- Terdapat poster-poster keyaninan kelas di setiap kelas
- Pendidik dan Tenaga kependidikan dapat penerapkan segitiga restitusi dalam menangani masalah siswa.
- Penerapan nilai- nilai kebajikan melalui keyakinan kelas
- Penerapan posisi kontrol sebagai manajer

D. Linimasa Tindakan Yang Dilakukan

Adapun kegiata- kegiata yang dilakukan adalah:
-  Menyusun modul dan rancangan aksi nyata
- Membuat Power point atau bahan presentasi lain untuk kegiatan diseminasi
- Menemui Kepala sekolah beserta wakilnya untuk meminta izin , menyampaikan rencana , menunjukan modul, dan konsultasi jadwal pelaksanaan.
- Berkolaborasi dan koordinasi dengan tim mengenai hal-hal yang dibutuhkan
- Menentukan alat dan tempat pelaksanaan
- Berlatih presentasi dan mempersiapkan media

E. Dukungan yang dibutuhkan

- Persiapan alat dan tempat berkonsultasi dengan waka sarana dan prasarana
- Tim yang solid
_ Motivasi dari pimpinan dan warga sekolah

F. Kesimpulan

Dari kegiatan pengimbasan  ini kami bersama-sama belajar bagaimana penerapan dan perwujudan Budaya Positif di sekolah.Bapak/Ibu guru sangat antusias sekali menyimak materi budaya positif. Karena dalam materi ini ternyata ada yang cukup membuat kami agak merasa kaget yakni pendisiplinan siswa tanpa adanya hukuman, kemudian kehadiran penghargaan yang ternyata tidak selamanya akan menghasilkan sesuatu yang baik juga materi yang sangat menggugah semangat kami dalam penerapan segitiga restitusi dalam penyelesaian ketidaksiplinan siswa.

Setelah pelaksanaan berbagi praktik baik, rekan guru mulai mencoba untuk menerapkan budaya positif di sekolah. Dimulai dari pembentukan keyakinan kelas, kemudian penerapan program restitusi bagi siswa yang melanggar kedisiplinan, serta menerapkan posisi kontrol sebagai manajer. Hal ini kami laksanakan secara berkolaborasi dengan tujuan agar dapat mencapai sesuatu yang diharapkan yakni munculnya motivasi intrinsik siswa sehingga mereka dapat memunculkan karakter-karakter baik yang nantinya akan menjadi sebuah budaya positif di lingkungan sekolah.











Label: